Tempat Berbagi Makalah, Karya Tulis/ Ilmiah Serta Berbagai Macam Tugas Sekolah Dari SD/SMP/SMA dan Umum

Wednesday, January 14, 2015

Contoh makalah Makalah peran dan tugas rasul


Contoh makalah Makalah peran dan tugas rasul


A.Peran dan Tugas Rasul

1. Sebagai muballigh dan mubayyin

Dalam surat Al Maidah ayat 67,
بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّك
“sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”
Menurut Tafsir ibnu katsir
Allah ta’ala berfirman sambil mengkitabi hamba dan Rasulnya Muhammad saw.dengan ungkapan‘’rasul‘’ dan menyuruhnya supaya menyampaikan seluruh perkara yang dibawanya dari Allah. Dan Nabi saw telah melaksanakan perintah itu dan menjalankan risalah dengan sempurna.
Sehubungan dengan penafsiran ayat ini, bukhari meriwayatkan dari aisyah ra ia berkata , ‘’ barang siapa yang menceritakan kepadamu bahwa muhammad menyembunyikan sesuatu dari apa yang diturunkan Allah kepadanya maka sungguh berdustalah orang itu, dan dia berfirman, ‘’ Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari tuhanmu.’’ Demikianlah bunyi hadits ini secara ringkas. Hadits ini dikemukakan oleh Bukhari-Muslim dalam shahihanya secara panjang.

Allah mengutus Rasul untuk menyampaikan ajaran yang diwahyukan kepadanya, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Ankabut ayat 18 dan surat Al-Maidah ayat 67 bahwa Rasul benar-benar telah menyampaikan ajaran tersebut secara tuntas, tanpa ada yang dikurangi dan dilebihkan. Ia telah berhasil melaksanakan fungsi muballigh-nya kepada umat saat ini,dan pengaruhnya terasa hingga sekarang.Sebagai muballigh ia dikenal mampu menyampaikan tutur kata yang lembut,ringkas namun jelas dan padat isinya serta disesuaikan dengan daya tangkap audiennya.
‘’ wahai rasul sampaikanlah apa-apa yang disampaikan dari tuhan kepadamu’’ itu dikarenakan kaum yahudi berkata kepada nabi ketika nabi mengajak kepada islam maka mereka menyepelekan ajakan nabi dan mereka berkata ‘’ kamu mengharapkan supaya kamu menjadikanmu belas kasihan seperti yang dilakukan kaum nasrani kepada nabi isa as.’’ Maka ketika nabi melihat itu terdiam , maka allah memerintahkan supaya nabi mengajak mereka terhalang oleh keingkaran mereka. Maka allah berfirman yang artinya ;’’ Wahai rasul sampaikanlah apa-apa yang disampaikan sari tuhanmu kepadamu.’’ Dari alqur’an yang dimaksudkan aku (pengarang) artinya ‘’ maka kamu tidak menyampaikan amanatnya(allah), menurut pengarang maksudnya ‘’ seakan-akan kamu tidak menyampaikan sesuatu dari risalah tuhanmu” karena tuhanmu memerintahkan untuk menyampaikan semua risalahnya maka dimana sebagian tidak disampaikan sama saja tidak menyampaikan semuanya seperti orang yang ingkar. Maka dia termasuk ingkar semuanya dan dikatan ayat yang maksudnya “ maka tidak menyampaikan wahyu yang mana kamu adakah seorang utusan.”
Zamrahbin zandub meriwayatkan dari rasullullah saw “ sesunya sayapun seorang manusia sama seperti kalian”. Maka kalian tahu sesungguhnya aku meringkas sesuatu risalah dari penyamapaian tuhanku, maka beri tahu aku sehingga aku menyampaikan risalah tuhanku sebagai mana mestinya.
Maka mereka berdiri dan berkata “ saya bersaksi bahwasannya angkau benar-benar telah menyampaikan risalah tuhanmu dan telah memberi nasihat kepada umatmu danmemenuhi apa-apa yang menjadi kewajibanmu.”
Berdasarkan tafsi jalalain,
“Wahai utusan sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu kepadamu dari tuhanmu janganlah kamu sembunyikan sedikitpun karena takut akan mendapatkan kebencian dan apabila kamu tidak menyampaikan semua yang telah diturunkan kepadamu maka kamu tidak menyampaikan risalahnya. Allah menjagamu dari manusia maksudnya dari upaya pembunuhan mereka. Nabi Muhammad saw dijaga oleh para sahabat sampai turun ayat ini, lalu nabi bersabda ‘’ Berpalinglah kalian semua karena Allah telah menjagaku.’’
Tafsir Al- Misbah
Setelah kedua ayat yang lalu memberi kesan melalui kata lauw/ jika seandainya bahwa mustahil mereka beriman, maka boleh jadi kesan tersebut mengantar nabi muhammad saw. Dan penganjur-penganjur islam untuk berpangku tangan sehingga tidak lagi bertabligh atau melaksanakan tugas dakwah. Ini diluruskan oleh ayat ini. Bukankah masih ada golongan yang pertengahan di antara mereka yang tidak terlalu membenci umat islam yang bersifat adil dan objektif? Demikian al- biqa’i menghubungkan ayat ini dengan ayat sebelumnya.
Thahir ibnu asyur menilai penempatan ayat ini di sini merupakan sesuatu yang musykil karena tulisannya surah al-maidah merupakan salah satu surah terakhir yang turun, sedangkan ketika itu rasul saw telah menyampaikan seluruh ajaran agama yang turun hingga ketika itu. Seandainya ayat ini turun pada awal masa kenabian, maka apa yang diperintahkan di sini dapat dimengerti dan dipahami sebagai mengukuhkan nabi saw.dan meringankan beban mental beliau. Tetapi, karena surah ini merupakan salah satu surah terakhir yang turun, dan beliau sendiri telah melaksanakan tugas penyampaian risalah, agama pun telah disempurnakan, maka sebenarnya padasaat turunnya tidak ada lagi yang diperintahkan untuk disampaikan. Karena itu, hanya ada dua kemungkinan yang dapat dikemukakan menyangkut penempatan ayat ini dalam surah ini dan sesudah uraian ayat-ayat sebelumnya.
Pertama ayat ini turun untuksatu sebab tertentu, yang mengundang adanya ayat yang mengukuhkan beliau agar menyampaikan sesuatu yang berat untuk beliau sampaikan. Kedua, ayat ini turun sebelum turunnya surah ini. Dan ini didukung oleh banyak riwayat.
Thahir ibnu asyur menambahkan bahwa ayat ini mengingatkan rasul agar menyampaikan ajaran agama kepada ahl al- kitab tanpa menghiraukan kritik dan ancaman mereka,apalagi teguran-teguran yang dikandung oleh ayat-ayat lalu yang harus disampaikan nabi saw itu merupakan teguran keras seperti banyak di antara mereka yang fasiq dan firmannya : apakah akan aku beritakan kepada kamu tentang yang lebih buruk dari itu pembalasannya di sisi allah yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai allah “
Sementara ulama menjadikan ayat ini sebagai salah satu mu’jizat al- qur’an dengan alasan keterbuktian kebenaran jaminan pemeliharaan itu, kendati berbagai upaya telah dilakukan oleh kaum musyrikin mekah dan orang yahudi untuk membunuh rasul saw.

Dalam surat An-Nahl ayat 44,
لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
"Agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka."

Allah berfirman ‘’ Dan kami turunkan kepadamu al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dari tuhannya, sebab kamu mengetahui kandunganal-Qur’an yang diturunkan kepadamu , kamu sangat mencintainya, dan mematuhinya, karena bumi tahu bahwa kamu merupakan makhluk yang paling utama dan junjungan keturunan adam. Maka rrincilah ayat yang global dan terangkanlah ayat yang musykil supaya mereka memikirkan,’’ yakni merenungkan kebaikan dirinya, lalu beroleh petunjuk sehingga mereka berhasil meraih keselamatan diduni dan akhirat
Mubayyin adalah orang yang diberi mandate untuk menjelaskan wahyu dari Allah SWT kepada umat manusia, sebagaimana dalam surat An-Nahl ayat 44 Yakni , rasulullah bertugas menerangkan ayat-ayat Al-Qur'an yang telah diturunkan kepadanya agar umatnya (Muhammad) dapat memahami ayat-ayat yang telah diturunkan tersebut.Berbagai penjelasan yang dilakukan oleh Rasulullah baik dalam bentuk ucapan,perbuatan maupun ketetapan,dilakukannya dengan penuh tanggung jawab dan sekaligus dipantau oleh Allah SWT.
Dan kami turunkan kepadamu Ad-Dzikr ( AL-Qur’an ) agar kamu jelaskan kepada manusia apa-apa yang telah diturunkan kepada mereka didalam Al-Qur’an tentang halal dan haram agar mereka berfikir didalam penurunan agar mengambil pelajaran-pelajaran.
Para rasul yang kami utus sebelummu itu semua membawa keterangan-keterangan yakni mu’jizat-mu’jizat nyata yang membuktikan kebenaran mereka sebagai rasul, dan sebagian membawa pula zubur yakni kitab-kitab yang mengandung ketetapan-ketetapan hukum dan nasihat-nasihat yang seharusnya menyentuh haati, dan kami turunkan kepadamu adz-dzikir yakni al- qur’an agar engkau menerangkan kepada seluruh manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka yakni al- qur’an itu, mudah-mudahan dengan penjelasanmu mereka mengetahui dan sadar dan supaya mereka senantiasa berpikir lalu menarik pelajaran untuk kemaslahatan hidup duniawi dan ukhrawi mereka.
Kata az-zubur adalah jamak dari kata zabur yakni tulisan. Yang dimaksud di sini adalah kitab-kitab yang ditulis, seperti taurat, injil, zabur, dan shuhul ibrahim as. Para ulama berpendapat bahwa zubur adalah kitab-kitab yang singkat tidak mengandung syariat, tetapi sekadar nasihat-nasihat.
Salah satu nama al- qur’an adalah adz- dzikir yang dari segi bahasa adalah antonim dari kata lupa. Al- qur’an dinamai demikian karena ayat ayatnya berfungsimengingatkan manusia apa yang dia berpotensi melupakannya dari kewajiban, tuntunan dan peringatan yang seharusnya dia selalu ingat, laksanakan dan indahkan. Di sisi lain, tuntunan dan petunjuk-petuinjuk harus pula selalu diimgat dan dicamkan.
Penyebutan anugerah allah kepada nabi muhammad saw secara khusus dan bahwa yang dianugerahkan nya itu adalah adz-dzikir mengesankan perbedaan kedudukan beliau dengan para nabi dan para rasul sebelumnya.dalam konteks ini nabi muhammad saw bersabda : tidak seorang nabi pun kecuali telah dianugerahi allah apa ( bukti-bukti inderawi ) yang menjadikan manusia percaya padanya. Dan sesungguhnya aku dianugerahi wahyu ( al- qur’an yang bersifat immaterial dan kekal sepanjang masa ), maka aku mengharap menjadi yang paling banyak pengikutnya di hari lemudian.
Thabathaba’i menegaskan bahwa diturunkannya al- qur’an kepada umat manusia dan turunnya kepada nabi muhammad saw adalah sama,dalam arti diturunkannya kepada manusia dan turunnya kepada nabi muhammad saw agar mereka semua nabi dan seluruh manusia mengambil dan menerapkannya.
Ayat ini menugaskan nabi muhammad saw untuk menjelaskan al- qur’an. Bayan atau penjelasan nabi muhammad saw itu bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Memang as sunnah mempunyai fungsi yang berhubungan dengan al- qur’an dan fungsi sehubungan dengan pembinaan hukum syara’. Ada dua fungsi penjelasan nabi muhammad saw dalam kaitannya dengan al- qur’an yaitu bayan ta’kid dan bayan tafsir. Yang pertama sekadar menguatkan atau menggaris bawahi kembali apa yang terdapat dalam al- qur’an, sedang yang kedua memperjelas, merinci, bahkan membatasi pengertian lahir dari ayat ayat al- qur’an.
Para ulama’ mendefinisikan as-Sunnah terhadap al-Qur’an sebagai bayan murad Allah ( penjelasan tentang maksud Allah ), sehingga apakah ia merupakan penjelasan penguat atau perinci, pembatas dan bahkan maupun tambahan, kesenuanya bersumber dari Allah. Ketika rasul melarang seorang suami memadu istrinya dengan bibi dari pihak ibu atau bapak sang istri, yang pada lahirnya berbeda dengan bunyi QS.an-Nisa’[4]: 24, maka pada hakikatnya penambahan tersebut adalah penjelasan dari apa yang dimaksudkan Allah swt. Dalam firman tersebut.
Menurut tafsir Samarkandi
“dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.’’ Maksudnya ‘’ apa yang diperintahkan mereka dalam kitab, agar mereka berfikir sehingga mereka beriman kepada Al-Qur’an.

2.Sebagai uswatun hasanah(contoh dan panutan yang baik)
Dalam surat Al-Ahzab ayat 21,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Menurut Ahmad Showi Al-Malakie
Ucapan (Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu) ayat ini dan ayat sesudahnya (Diturunkan agar menjadi kejelasan dari ahli kitab) yaitu menjadi kesempurnaan atas cerita dari QS Al-Ahzab, yaitu celaan yang sangat berlarut-larut, dari pembunuhan Rasulullah bersama orang mu’minin dan munafik. Dengan ucapan (kata “uswatun/suri tauladan” bisa di baca kasroh dan Dhommah) maksudnya dalam lafad uswatun bisa dibaca dua kata. Ucapan (Iqtida’=mengikuti) meng’isyaratkan sesungguhnya kata uswah menggunakan makna masdar dan istisna. Di ucapankan dengan perumpamaan fulan dengan fulan, kata fulan mengikuti makna sesudahnya. Ucapan (qital = pembunuhan) tidak menjadi kejelasan atas lafad sebelumnya, tetapi mengikuti kata Rasulullah saw mewajibkan di dalam perkataan, pekerjaan dan perbuatan. Karena sesungguhnya tidak di batasi dan tidak dikerjakan dari hawa. Tetapi jamak dari perbuatan, perkataan dan pekerjaan dari Tuhan. Berkata orang yang arif, di khususkan dengan petunjuk di setiap perbuatan , karena sesuatu harus dilakukan dengan sesuatu yang dikehendakinya.

Menurut tafsir Al Maroghi
Sesungguhnya ”pekerjaan yang baik” adalah pekerjaan yang kita ikuti seperti apa yang dikehendaki oleh ALlah, apabila engkau mengerjakannya. Bukti yang sah, ikutilah Rasulmu dalam pekerjaannya, dan pekerjaan yang di mudahkan atas pertolongan dari Allah. apabila engkau mengharapkan pahala dari Allah swt, takut adanya siksaan Allah swt dari segala kesulitan, dan tidak adanya kejelasan dalam pekerjaan apapun, kecuali amal sholih. Dengan cara mengingat Allah yaitu menyebut namanya dimanapun tanpa adanya batasan. Karena sesungguhnya mengingat/menyebut nama Allah tersebut bukti bahwa kita taat kepanya dan mengukuhkan atas rasulnya.

Berdasarkan Tafsir jalalain
Ayat ini (Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu) ayat ini dan ayat sesudahnya (Diturunkan agar menjadi kejelasan dari ahli kitab) yaitu menjadi kesempurnaan atas cerita dari QS Al-Ahzab, yaitu celaan yang sangat berlarut-larut, dari pembunuhan Rasulullah bersama orang mu’minin dan munafik. (kata Alifnya kata Uswatun bias di baca Fathah dan dhommah) maksudnya boleh menggunakan dua kata. Ucapan (Iqtida’=mengikuti) meng’isyaratkan sesungguhnya kata uswah menggunakan makna masdar dan istisna. Di ucapankan dengan perumpamaan fulan dengan fulan, kata fulan mengikuti makna sesudahnya. Ucapan (qital = pembunuhan) tidak menjadi kejelasan atas lafad sebelumnya, tetapi mengikuti kata Rasulullah saw mewajibkan di dalam perkataan, pekerjaan dan perbuatan. Karena sesungguhnya tidak di batasi dan tidak dikerjakan dari hawa. Tetapi jamak dari perbuatan, perkataan dan pekerjaan dari Tuhan. Berkata orang yang arif, di khususkan dengan petunjuk di setiap perbuatan , karena sesuatu harus dilakukan dengan sesuatu yang dikehendakinya

Menurut Tafsir Samarqondi
Sesungguhnya dalam diri kita semua (orang Islam), sudah ada utusan yang harus di ikuti, yaitu mengikuti Rasulullah saw, dan mengikuti kebaikannya, dan mengikuti sunah-sunah yang bagus, karena sesungguhnya semua itu harus telah dilakukan orang-orang yang dahulu dalam peperangan, dan di bagi menjadi empat dalam setiap satu minggu, untuk menjaga tanah air.
Menurut tafsir AL-Ibriz
Sesungguhnya dalam diri kita semua (orang Islam), sudah ada utusan yang harus di ikuti, karena sudah jelas yang kita ikuti itu orang yang bagus dalam utusan Allah (jadi kita hanya mengikuti pekerjaan yang telah di ikuti Rasulullah dan kita tidak usah ragu).



Rosulullah sebagai model ideal bagi kehidupan dalam segala bidang,terutama dari segi akhlak yang mulia. Dia harus memberikan contoh yangbaik dalam bertutur kata,berjalan,makan,minum,berpakaian,tidur,berumah tangga,bergaul,berjualan,berperang,memimpin,berdiplomasi dan lain sebagainya.
Sebab itu, apa yang diucapkan atau yang dikerjakan rasulullah harus dicontoh atau diikuti, dan sebaliknya apa –apa yang dilarangnya harus dihindarkan.

3.Sebagai rahmatan lilalamin

Dalam surat Al-Anbiya’ ayat 107,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Menurut Akhmad Showi Al-Malakie
(penjelasan dari kata “rahmat”) menunjukkan kandungan/arti sesungguhnya dari lafat “anna/sesungguhnya”. (kata “rahmat”) boleh dibaca fathah, karena menjadi maf’ul liajlihi. Dan apabiladi baca fathah menunujukkan “hal/tingkah”. Maksudny adalah menunjukkan sifat seseorang yang sangat mempunyai rasa kasih saying kepada umat-nya. Yaitu para nabi yang mempunyai kasih saying dan nabi jelas sekali/menunjukkan rasa kasih sayangnya. Atau kata tersebut bias menjadi mudhaf (maksudnya : jelas mempunyai rasa kasih sayang). Seperti dalam hadits : sesungguhnya saya mempunyai sifat “rahmat” yang tidak terhingga.

Berdasarkan tafsir Al- Maroghi
(Muhammad di utus untuk menjadi Rahmat seluruh Alam) maksudnya di utus untuk menetapkan syara’ dan hokum yang menjadi kebahagiaan di dunia dan akherat kecuali untuk menjadi rahmat seluruh alam dan menjadi petunjuk dalam segala pekerjaan dan urusan hidupnya.
Penjelasan ini, menunjukkan bahwa nabi Muhammad saw, jelas mempunyai misi membawa kebaikan dunia dan akherat, kecuali orang-orang kafir yang memanfaatkan itu semua. Dan cuek atas semua penjelasan itu karena rusak, dan tidak diterima inilah rahmat. Dan tidak ada syukur nikmat, maka tidak akan bahagia dalam agamanya dan dunianya.

Menurut Tafsir Jalalain
(Kata “rahmat”) mengisyaratkan sesungguhnya kata tersebut dibaca fathah karena menjadi maf’ul liajlihi. Dan sudah sangat jelas bahwa di baca fathah menjadi hal/tingkah karena sesungguhnya menunjukkan sifat kasih saying. Seperti yang sudah jelas bahwa para nabi diciptakan untuk menjadi rahmat. Dan nabi menunjukkan rahmat atau atas hilangnya mudhaf (maksudnya mempunyai rahmat Yaitu para nabi yang mempunyai kasih saying, Seperti dalam hadits : sesungguhnya saya mempunyai sifat “rahmat” yang tidak terhingga. (kata manusia dan jin) maksudnya kebaikan dan kejelekan, mu’min dan kafir, karena itu bias diangkat kekuasaannya, dan bias menghilangkan adzab yang sangat bahaya, dan menjdi rahmat apabila apa yang dikerjakan itu bias menjadikan kebahagiaan. Karena itu semua rahmat di dunia dan akherat. Tetapi bagi orang kafir itu adalah rahmat di dunia saja.

Berdasarkan Tafsir Samarqondi,
(lafad “wama arsalnaka….”) maksudnya Tuhan mengutus Muhammad kecuali hanya untuk menjadi Rahmat seluruh Alam, yaitu nikmat bagi jin dan manusia. Lafadz (lil’alamin) adalah semua makhluk, karena sesungguhnya manusia terbagi menjadi 3 jenis : Mu’min, kafir dan munafiq. Itu semua rahmat seluruh alam. Dan menjdi petunjuk jalan menuju surga, dan rahmat bagi orang munafiq, apabila ia percaya untuk dibunuh. Rahmat bagi orang kafir karena akhirnya adzab. Diriwayatkan said bin jabir, dari ibnu abbas berkata : barang siapa beriman kepada allah dan rasulnya, maka itu rahmat di dunia dan akherat, dan apabila tidak beriman kepada allah dan rasulnya maka itu bias menjadikan umat salaf sebelum semua itu adalah rahmat bagi orang mu’min dan kafir.

Rasulullah adalah insan kamil yang dibekali Allah dengan sifat kasih sayang yang tinggi sehingga Beliau dapat mengemban tugas sebagai rahmatan lil’alamin, yang selalu memberi rahmat kepada seluruh alam. Baik manusia,hewan, maupun tumbuhan.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Pages

Blog Archive

Visitor